Sering kali kita merasa tidak butuh Allah, karena merasa
semua bisa kita kerjakan. Padahal kita hanyalah manusia yang lemah dan tidak
berdaya. Allah berfirman :”Dan manusia
diciptakan dalam keadaan lemah” (An-Nisa [4]: 28)
Sebagian besar manusia memiliki kelemahan-kelemahan berikut:
1. Pengetahuan agamanya kurang;
Sebagian besar manusia tidak lagi peduli dengan keislaman
mereka. Sistem sekuler membuat mereka lebih memilih dunia daripada Islam. Pendidikan
umum diminati banyak orang, sementara pendidikan Islam dijauhi karena mereka
anggap tidak menghasilkan harta dan kenikmatan dunia.
Padahal Islam menjadi sangat penting untuk dipelajari. Karena
dengan pengetahuan yang banyak akan membuat kita lebih kuat menghadapi masalah.
Beban-beban bisa teratasi dengan baik. Untuk ilmu dunia saja kita seringkali
rakus. Tetapi saying, untuk ilmu agama kita sering menunda-nunda. Kalau malas
belajar agama, maka kita akan menjadi orang yang kurang pengetahuan agama. Dari
inilah setan aan muncul dan menggoda kita untuk selalu was-was dalam setiap
hal.
Agama Islam memberikan aturan, syariah, dan hukum yang jelas
dan tidak ngawur. Maka bila seseorang memahaminya dengan baik, mengamalkan
dengan sekama, hidupnya akan tertata dengan baik pula.
Lebih indah dengan Islam manakala kita tahu Islam itu apa.
Rakus akan ilmu Islam tidaklah masalah. Semakin banyak buku agama yang dibaca
maka akan semakin baik buat jiwa. Pikiran tenang, hati pun tenteram, tidak
tergesa-gesa, dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan hidup. Tidak ada lagi
was-was, khawatir, atau yang lainnya.
“Allah akan mengangkat
kedudukan orang-orang yang beriman dan diberikan ilmu di antara kalian beberapa
derajat. Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-Mujadilah
[58]: 11)
Jadi, tidak akan rugi mereka yang berilmu. Seharusnya kita
tidak kenal menyerah dalam belajar. Muslim meriwayatkan di dalam Shahih-nya, Yahya bin Abi Katsir
berkata: “Ilmu tidak akan diraih dengan tubuh yang banyak bersantai-santai.”
Ada yang mengatakan, “Barangsiapa yang ingin hidup santai (di
masa depan, akhirat) dia harus meninggalkan banyak bersantai-santai (di
dunia).”
2. Sedikit mengingat Allah;
Hati ibarat sebuah rumah yang harus dilindungi dari serangan
musuh. Seorang mukmin harus membentengi hatinya dengan dzikrullah. Tidak ada
perisai yang lebih ampuh untuk menahan gempuran setan daripada dzikrullah. Hati
yang kering dan kosong dari dzikrullah adalah sasaran yang empuk bagi setan
untuk melancarkan serangannya.
Mengapa kita begitu mudah mengingat dunia? Segala hingar
binger dan riuh rendah peonanya membuat kita selalu ingat pada dunia. Lalu
kenapa tidak kepada Allah kita mengembalikan seluruh cinta dan pengharapan
kita?
Saat didera masalah kita langsung mencari konsultan terbaik,
mencari orang yang paling bisa mendengar dan memberi masukan. Tapi kita lupa
bahwa dengan dzikir, kita bisa lebih tenang. Kita bisa lebih mampu menata hati.
Lisan kita harus basah oleh dzikir. Coba bandingkan dengan
saat kita mendengarkan musik atau mendengar suara lainnya. Hasilnya akan sangat
berbeda. Dzikir bisa membuat hati kita lebih tenang dan lebih nyaman.
“Hai orang-orang yang
beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan dzikir yang
sebanyak-banyaknya.” (Al-Ahzab [33]: 41)
Perintah Allah sudah sangat jelas. Kita diminta untuk
memperbanyak berdzikir, agar kita menjadi semakin tenang. Dzikir inilah yang
akan menghidupkan hati kita.
“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada
Rabbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Apakah kita mau menjadi orang yang mati sebelum mati? Raga
masih bernyawa tapi tanpa makna dan penuh hampa.
Nabi SAW pernah bertanya, “Maukah
aku beritahu amalanmu yang terbaik, yang paling bersih disisi Rabbmu, yang
paling tinggi dalam derajatmu, lebih baik dari emas dan perak yang kamu
berikan, serta lebih baik bagimu daripada berperang dengan musuhmu lalu kamu
potong lehernya atau mereka memotong lehermu?” Para sahabat lalu berkata,
“Apakah itu wahai Rasulullah?” Nabi SAW bersabda, “Dzikrullah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Seringkali kita sibuk dengan warna-warni dunia yang silau dan
menyilaukan. Tapi sejenak marilah kita mencoba sibuk dengan dzikrullah.
Membasahi lidah dengan bacaan yang baik. Agar Allah mengenal kita sebagai hamba
yang beryukur.
“Dua kalimat ringan diucapkan lidah,
berat dalm timbangan dan disukai oleh Allah, yaitu kalimat: Subhanallah
wabihamdihi, subhanallahil ‘Adzhim (Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya,
Mahasuci Allah yang Maha Agung).” (HR. Bukhari)
3. Kurang akal;
Sebagian besar manusia juga memiliki kelemahan kurang akal.
Bukan berarti mereka gila, tetapi mereka tidak cukup cerdas dalam mengelola
nafsunya. Mereka sering menderita was-was dan ragu-ragu dengan keputusan dan
pilihan hidupnya.
Was-was bisa saja mendera pikiran dan hati kita. Terutama
saat ingin beribadah pada Allah. Selalu ada rasa yang dating tiba-tiba. Merasa
kurang yakin dengan apa yang kita lakuan. Merasa kurang sreg dengan apa yang
sudah kita mulai kerjakan.
Dari sinilah kita kembali menyimpulkan bahwa kita ini makhluk
yang lemah. Kelemahan ini menjadi tabiat awal manusia. Mereka tidak mampu
memberi kekuatan dan kelebihan. Mereka juga tidak mampu menahan sebuah musibah
yang menimpa mereka.
Selain itui, kita juga memiliki nafsu. Dengan nafsu inilah
kita diberi kemampuan untuk meiliki keinginan dan kemauan. Sebagaimana yang
difirmankan oleh Allah SWT, “Dijadikan
indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa yang ia inginkan, yaitu:
wanita, ana-anak, harta yang banyak baik itu emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia,
dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran [3]:
14)
Jadi nafsu merupakan fitrah yang Allah berikan kepada manusia
sebagai nikmat baginya sekaligus ujian.
4. Manusia
suka berkeluh kesah;
“Sesungguhnya manusia
diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia
berkeluh esah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (Al-Ma’arij
[70]: 19-20)
Cobalah amati status teman-teman kita di facebook atau
twitter. Mereka sering sekali berkeluh kesah. Bila dikasih rezeki makanan yang
enak, mereka makan berlebihan hingga kekenyangan. Mereka pun mengeluh kenyang,
gerak tidak nyaman, dan perut sesak rasanya mau muntah. Tapi ketika diberi
lapar, melilit perut mereka sedemikian rupa, teman-teman akan mengeluh lapar.
Dikasih kenyang mengeluh, dikasih lapar juga mengeluh.
Itulah manusia, sarat dengan keluhan dan kekurangsabaran.
Kalau tidak bisa sedikit mengerem diri kita maka akan berakibat baik pada diri
kita sendiri. Sementara bila kita terbiasa mengeluh, hanya akan mengerdilkan
posisi kita sebagai seorang manusia.
Bersyukurlah setidaknya satu kali dalam sehari. Bersyukurlah
atas pekerjaan kita, kesehatan kita, keluarga kita, atau apapun yang dapat kita
syukuri.
Jangan mengeluh bila kita menghadapi kesulitan, tetapi
lakukanlah hal berikut. Tutuplah mata kita, tarik nafas panjang, tahan sebentar
dan kemudian hembuskan pelan-pelan dari mulut kita, buka mata, tersenyumlah dan
pikirkanlah bahwa suatu saat nanti kita akan bersyukur atas semua yang terjadi
pada saat ini.
Anggaplah masalah besar adalah tanda bahwa Allah berkehenda
menguji kita untuk naik tingkat ke level yang lebih baik (kematangan, kedewasaan,
dan lain-lain)
Biasakan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluh bila kita
sedang bersama teman-teman yang sedang mengeluh dan beri tanggapan yang positif
atau tidak sama sekali.
5. Manusia
suka berputus asa;
“Dan jika Kami rasakan
kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut
daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.” (Hud
[11]: 9)
Kita harus mampu berterima kasih kepada Allah. Allah sebagai
sumber harapan dan tujuan kita. Bila hidup tanpa harapan, ia seperti
berputar-putar di sebuah labirin. Hilang arah dan tak tentu mau kemana. Bila
sudah seperti ini, siapa yang akan menuai hikmahnya.
6. Menjalani
hidup tanpa adanya tujuan yang jelas
Banyak orang yang hidup tida menentu. Seolah-olah mereka
tidak memiliki tujuan, cita-cita, ataupun harapan yang ingin merea wujudkan
semasa hidup. Banyak orang yang hidupnya hanya penuh dengan angan-angan kosong.
Mereka hanya bermimpi, akan tetapi tidak memiliki keinginan atau strategi untuk
mewujudkan mimpi-mimpi mereka tersebut.
Universitas Yale mengumpulkan alumni mereka yang telah tamat
sepuluh tahun yang lalu. Pihak universitas mencoba untuk mengetahui tingkat
keberhasilan para alumni setelah mereka menyelesaikan studi di perkuliahan.
Ternyata, sebanyak 83% dari mereka yang hadir tidak memiliki
tujuan dan orientasi yang jelas dalam hidup. Sebagao kesimpulan, mereka hanya
berusaha dan bekerja segiat mungkin hanya untuk bertahan hidup dan mencukupi
kebutuhan keluarga. Hanya itu dan tidak ada yang lain.
Namun, ada sekelompok orang, yaitu sebanyak 14% dari mereka
yang memiliki tujuan yang jelas dalam hidup. Akan tetapi, tujuan yang mereka
inginkan tidak mereka tulis. Mereka juga tidak menuliskan langkah-langkah ataupun
program-program yang harus mereka tempuh untuk sampai pada tujuan tersebut.
Tapi, kelompok ini tiga kali lebih baik daripada kelompok sebelumnya.
Kelompok terakhir, yaitu 3% dari mereka memiliki tujuan yang
jelas sekaligus menuliskannya di atas kertas. Selain itu, mereka juga menyusun
langkah-langkah tertulis untuk bisa mencapai tujuan mereka. Kelompok terakhir
ini sepuluh kali lebih baik daripada kelompok pertama.
Penjelasan di atas memaparkan kepada kita bahwa tujuan
ataupun orientasi merupakan suatu hal yang penting dalam hidup. Dengan adanya
langkah-langkah yang kita susun, aan memudahkan kita untuk sampai pada tujuan.
Selain itu, semua ini harus dibekali juga dengan tekad dan keinginan untuk
mencapai tujuan tersebut.
Allah Ta’ala berfirman: “Kataanlah,
wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas (melakukan dosa), janganlah
kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (Al-Zumar [39]: 53)
7. Manusia
mudah ingkar;
“Dan Dia telah
memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya.
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.
Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Ibrahim
[14]: 34)
Kecenderungat kita adalah suka melihat mereka di atas kita
dalam hal nikmat dunia. Sudah diberi sepeda, masih minta sepeda motor. Sudah
diberi motor, masih minta mobil. Sudah diberi mobil masih minta yang lebih
mewah dan lebih baru.
Manakala kita hanya kembali kepada Allah, hidup kita akan
bahagia. Saat kita mau diatur oleh Allah maka hidup kita akan semakin bahagia.
Tidak ada aturan yang dilanggar, tidak ada yang didzalimi dan semua aman dan
nyaman sesuai dengan ketentuannya.
Berarti
Kita akan selalu Butuh Allah
Kita dapat menarik kesimpulan, bahwa kita memang benar-benar
hamba yang lemah dan tidak berdaya. Maka tidaklah salah dan tidaklah keliru
bila kita melibatkan Allah dalam setiap keputusan kita.
Allah Ta’ala akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan
persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya
sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba
tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allah Ta’ala.
Imam Nawawi dalam Syarah
Shahih Muslim berkata: “Para ulama mengatakan: Makna husnuzhan kepada Allah
adalah yakin bahwa Allah akan merahmatinya dan mengampuninya.” Kemudian dia
mengatakan pula: “Al-Qadhi berkata: Mengampuninya jika seorang hamba meminta
ampun, menerimanya jika seorang hamba bertaubat, mengabulkannya jika seorang
hamba memohon, dan mencukupinya jika seorang hamba meminta. Ada pula yang
mengatakan bahwa maksudnya adalah mengharap pengampunan.”
Baca juga: