Asik

Rabu, 12 November 2014

Akuntansi Binatang (Faktor yang Menggerakan Satwa untuk Melakukan Pengelompokkan)

Pernahkah kita membayangkan bahwa binatang di alam mampu berhitung layaknya pedagang? Bagi mereka yang pernah melihat pertunjukan sirkus, jangan bayangkan satwa liar di alam melakukan penghitungan matematis sederhana seperti dalam pertunjukan tersebut. Satwa liar bahkan mampu melakukan perhitungan yang lebih rumit dan menyangkut hidup dan matinya.
Mari kita coba lihat contoh perilaku ikan di laut. Ada beberapa jenis ikan yang hidup sendiri (soliter) dan apabila kita perhatikan, beberapa jenis ikan hidup secara berkelompok seperti halnya ikan Sarden. Pada contoh yang terakhir, mengapa ikan tersebut hidup berkelompok dan bergerak kesana kemari? Ternyata apabila di perhatikan dengan lingkungan sekitarnya, ikan memiliki strategi untuk menghadapi ancaman predator. Setiap ekor ikan memiliki satu pasang mata, namun apa yang terjadi apabila mereka hidup berkelompok? Kelompok ikan tersebut seakan-akan memiliki mata sebanyak dua kali jumlah ikan yang ada. Dengan cara seperti ini, mereka mampu mendeteksi keberadaan predator dan menginformasikan kepada anggota kelompok yang lain, arah gerakan untuk menghindari predator.

Membentuk kelompok secara bersama-sama nampaknya memberikan keuntungan kepada individu ikan untuk memperoleh perlindungan dari satwa predator. Namun di lain pihak, dengan membentuk kelompok, seekor individu akan memiliki resiko untuk berkompetisi untuk memperoleh makanan. Contoh di atas menunjukkan bahwa ikan mampu menghitung resiko yang akan diperoleh apabila mereka bergerak sendiri-sendiri dibandingkan dengan apabila mereka bergerak secara bersama-sama dalam sebuah kelompok. Dalam contoh yang ekstrim, seekor ikan akan memiliki resiko kematian hingga 100% apabila individu tersebut hidup sendiri, dan memiliki resiko mendekati 1% apabila hidup dalam kelompok. Namun dengan resiko individu memperoleh jatah makan yang lebih sedikit. Disini, kita bisa melihat nyata kerja sama antar satwa yang memberikan banyak keuntungan bagi anggota kelompoknya.

Mengapa bekerja sama?
Faktor apa yang menggerakan satwa untuk melakukan pengelompokkan?
Salah satu alasan utama terjadinya pengelompokan dan kerjasama antar individu adalah sifat altruistic yang ada di dalam satwa. Altruistic mengandung arti bahwa seekor individu lebih memilih mengorbankan diri dan memberikan keuntungan kepada individu yang lain. Sifat altruistic ini tidak hanya terjadi pada saat menghadapi predator, namun juga dapat terjadi pada kehidupan dalam keluarga binatang semisal pada kehidupan serangga.

Namun tidak semua binatang yang berkerabat dapat bersifat altruistic, sebagai contoh pada satwa-satwa vertebrata. Para ahli biologi telah lama memahami bahwa faktor lingkungan merupakan salah satu penyebab munculnya perilaku sosial. Sebagai contoh, untuk memiliki keturunan, satwa membutuhkan berbagai sumber daya termasuk makanan, teritori dan pasangan. Tanpa memiliki sumberdaya tersebut, seekor satwa lebih memilih membantu keluarganya untuk membesarkan saudaranya daripada gagal untuk bereproduksi seperti dalam berbagai species ikan, burung dan mamalia.

Bukankah, satwa di alam juga memiliki kemampuan berhitung?


Penulis Muhammad Ali Imron, peneliti bidang kehutanan dan hidrosains di TU Dresden, Jerman. Kontak: imbron@yahoo.com.

Tidak ada komentar: