Asik

Kamis, 06 November 2014

Petaka Kaum Sodom

Seorang anak perempuan yang tengah mengambil air di tepian sungai pinggir kota itu tersentak kaget, sealigus diliputi kekhawatiran yang luar biasa. Pasalnya, tidak jauh dari hadapannya muncul tiga orang lelaki tampan yang menanyakan Nabi Luth. Anak perempuan yang tidak lain adalah anak Nabi Luth itu sangat khawatir karena tamu ayahnya pasti menjadi bulan-bulanan masyarakat yang sangat tergila-gila kepada kaum sejenis. Untuk sejenak kedua tamu itu disuruh menunggu di berbatasan kota, sementara anak perempuan itu tergopoh-gopoh memanggil ayahnya agar menemui dan menjemput tamu-tamunya itu. Sambil berjalan menuju rumah, hati Nabi Luth terus-menerus diliputi kekhawatiran, sudah terbayang bagaimana buasnya masyarakat di sana.

Dugaan Nabi Luth tidak meleset, ternyata kaum lelaki berdatangan dengan meminta agar tamu-tamunya yang tampan itu diserahkan kepada mereka. Berita kedatangan tamu ganteng itu cepat tersebar, karena Wa’ilah isteri Nabi Luth telah lebih dahulu menginformasikan kepada masyarakat. Lantas Nabi Luth berkata: “Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina”. (Q.S. Al-Hijr: 68-69)

Nabi Luth baru merasa tenang ketika tamu-tamunya menjelaskan bahwa mereka bukanlah manusia biasa tetapi malaikat yang hendak menimpakan adzab kepada kaum yang durhaka. Nabi Luth dan keluarganya yang beriman disuruh keluar rumah pada malam hari itu juga, karena adzab segera datang. Tidak lama setelah itu, turunlah adzab Allah yang sangat dahsyat meluluh lantaan kaum Nabi Luth. Allah berfirman: “Maka tatkala datang adzab Kami, Kami jadikan negeri kaum Lut itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (Q.S. Hud: 82-83)

Itulah peristiwa yang terjadi ribuan tahun yang lalu disebuah daerah bernama Shadum (Sodom), sebuah kota di kawasan Laut Mati Yordania. Kota tersebut kemudian sering dijadikan sebutan bagi orang yang melakukan hubungan sesama jenis SODOMI. Peristiwa itu semestinya menjadi pelajaran bagi setiap manusia agar tidak mengulangi kehancuran masa lalu. Firman Allah: “Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih.” (Q.S. Adz-Dzariat: 37)

Sekarang ini berita-berita sodomi membanjiri media-media massa, baik cetak, elektronik, atau audiovisual. Berita sodomi tidak pernah berkurang. Bahkan kemunculan satu kasus sodomi selalu diikuti kemunculannya di daerah yang berbeda, bertumpuk bagaikan gunung es. Malah kelompok homosek dan lesbian sudah tidak malu-malu lagi menampakkan diri di masyarakat. Ini gambaran yang menghawatirkan bangsa kita.

Keadaan seperti ini jauh-jauh hari pernah dikhawatirkan oleh Rasulullah: “Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth” (HR. Ibnu Majah). Pelakunya akan jauh dari rahmat dan barokah Allah, sebagaimana ditegaskan beliau: “Allah tidak mau melihat kepada laki-laki yang menyetubuhi laki-laki atau menyetubuhi wanita (isteri) pada duburnya” (HR. at-Tirmidzi, an-Nasa’i). Hadits ini juga berlaku sebaliknya bagi kaum lesbi.

Kondisi ini harus menjadi perhatian kita semua, jangan sampai perilaku ini menyebar dan membuat petaka pada lingkungan yang lebih luas lagi. Setiap pribadi menyadari akan bahaya perilaku ini, dilanjutkan dengan perhatian keluarga, masyarakat hingga negara. Semuanya diarahkan untuk kembali ke jalan yang lurus sesuai qadrat kemanusiaan yang telah ditetapkan Allah SWT.


Kepada para pelaku, jika bertaubat dengan sebenar-benarnya (taubat nasuha) dan beramal shaleh kemuadian mengganti kejelekan-kejelekan dengan kebaikan, membersihkan berbagai dosanya dengan berbagai ketaatan dan taqarrub kepada Allah, menjaga pandangan dan kemaluannya dari hal-hal yang haram, dan tulus dalam amal ibadahnya, maka dosanya diampuni dan termasuk ahli surga.

Tidak ada komentar: