Asik

Selasa, 11 November 2014

Ilmu Pengetahuan Bumi Dan Antariksa Tata Surya

A.      Pengertian Tata Surya
Tata surya terdiri dari sebuah bintang yang disebut matahari dan semua objek yang yang mengelilinginya. Objek-objek tersebut termasuk sembilan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, meteor, asteroid, komet, planet-planet kerdil/katai, dan satelit-satelit alami.
B.     Karakteristik Anggota Tata Surya
Tata surya terdiri dari matahari, sembilan planet dan berbagai benda-benda langit seperti satelit, komet, asteroid. Planet-planet berevolusi mengelilingi matahari dengan orbit (garis edar) yang berbentuk elip. Beberapa planet mempunyai satelit.datelit iini iberputar mengelilingi planet dan bersama dengan planet mengelilingi matahari. Jadi, tata surya merupakan sistem rotasi yang berpusat pada matahari.
1.      Matahari
o   Matahari merupakan bintang terdekat dengan Bumi yang menjadi pusat dari tata surya.
o   Jarak antara Bumi dan Matahari adalah 150 juta kilometer atau 1 SA.
o   Zat penyusun matahari berupa gas, dengan komposisi: hydrogen (75%), helium (20%), dan unsur lain (2%).
o   Suhu permukaan Matahari 6000 derajat Celsius dan bagian inti mencapai 15 juta derajat Celsius.
o   Matahari berotasi 25,04 hari dan mempunyai gravitasi 27,9 kali gravitasi Bumi.
o   Massa Matahari adalah 333.000 kali massa Bumi.
o   Matahari dibagi menjadi 3 bagian:
v  Inti Matahari. Di bagian ini terjadi reaksi nuklir(pengubahan hydrogen menjadi helium dan energi). Suhunya mencapai 15 juta Kelvin.
v  Bola Matahari/fotosfer
v  Atmosfer Matahari(terdidi dari kromosfer dan korona).
o   Lapisan kulit Matahari dibagi menjadi 3,yaitu:
ü  Fotosfer
Kedalamannya 500 Km. Suhu fotosfer 6.000 Kelvin dan berkurang menjadi 4.500 Kelvin pada fotosfer bagian luar.
ü  Kromosfer
Lapisan kromosfer menjulang 12.000 Km di atas fotosfer dan memiliki tebal kira-kira 2.400 Km. Suhu kromosfer bagian atasnya 10.000 Kelvin.
ü  Korona(atmosfer Matahari bagian luar)
Suhu korona bagian luar mencapai 2 juta Kelvin.
2.        Planet
Planet adalah suatu benda gelap yang mengorbit sebuah bintang(Matahari). Hingga kini dikenal 9 planet sebagai anggota tata surya, Yaitu Merkurius, Venus, Buni, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Dan Pluto. Pada abad 17 dikenal 6 planet yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Dan Saturnus. Kemudian pada tahun 1781, Uranus ditemukan dan Neptunus pada tahun 1846, sedangkan Pluto ditemukan tahun 1930.  (Tjasyono, 2009: 32)
Pengelompokan planet:
Berdasarkan dijadikannya Bumi sebagai pembatas;
a.         Planet Inferor, yaitu planet yang orbitnya di dalam orbit Bumi mengitari Matahari.Planet yang termasuk planet inferior adalah Merkurius dan Venus.
b.        Planet Superior, yaitu planet yang orbitnya berada di luar orbit Bumi mengitari Matahari. Planet yang termasuk planet superior adalah Mars, Yupiter, Saturnus , Uranus, Neptunus, dan Pluto.

Berdasarkan dijadikannya lintasan asteroid sebagai pembatas;
a.       Planet Dalam,yaitu planet yang orbinya di sebelah dalam lintasan asteroid.Yang tergolong planet dalam adalah Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.
b.      Planet Luar,yaitu planet yang orbitnya di sebelah luar lintasan asteroid.Anggota planet luar adalah Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto.

Berdasarkan ukuran dan komposisi bahan penyusunnya;
a.       Planet Terestrial/Kebumian,yaitu planet yang ukuran dan komposisi penyusunnya (batuan) mirip dengan Bumi.Yang termask planet terrestrial adalah Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.
b.      Planet Jovian/Raksasa,yaitu planet yang sangat besar dan komposisi penyusunnya mirip Yupiter(terdiri dari sebagian besar es dan gas hydrogen).Yang tergolong dalam planet Jovian adalah Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Hukum Gerakan Planet:
a.       Hukum I Kepler: ”Orbit (lintasan dalam mengitari Matahari) planet berbentuk elips dengan Matahari berada pada salah satu titik apinya.
b.      Hukum II Kepler:”Garis hubung planet-Matahari akan menyapu daerah yang sama luasnya dalam selang waktu yang sama.
c.       Hukum III Kepler:”Jarak rata-rata planet ke Matahari pangkat tiga dibagi periode sideris kuadrat merupakan bilangan konstan” atau “Pangkat dua kala revolusi planet sebanding dengan pangkat tiga jarak planet ke Matahari.

C.    Teori Terbentuknya Tata Surya
1.      Teori Nebula / Kabut
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Immanuel Kant dan Laplace pada tahun 1796. Menurut teori ini mula-mula ada kabut gas dan debu (nebula) yang sebagian besar terdiri atas hidrogen dan sedikit helium. Nebula mengisi seluruh ruang alam semesta, karena proses pendinginan kabut gas tersebut menyusut dan mulai berputar. Proses ini mula-mula berjalan lambat, selanjutnya semakin cepat dan bentuknya berubah dari bulat menjadi semacam cakram. Sebagian besar materi mengumpul di pusat cakram, yang kemudian menjadi matahari sedang sisanya tetap berputar dan terbentuklah planet beserta satelitnya.
2.      Teori Tidal / Pasang Surut
Teori ini dikemukakan oleh James H. Jeans dan Harold Jeffres pada tahun 1919. Menurut teori ini ratusan juta tahun yang lalu sebuah bintang bergerak mendekati matahari dan kemudian menghilang. Pada waktu itu sebagian massa matahari tertarik dan lepas. Bagian-bagian yang lepas kemudian membentuk planet-planet.
3.      Teori Planetesimal
Teori ini dikemukakan oleh Moulton dan Chamberlain, yang menyatakan bahwa matahari merupakan salah satu dari bintang-bintang yang jumlahnya sangat banyak. Ada sebuah bintang berpapasan dengan matahari pada jarak yang tidak terlalu jauh, sehingga terjadilah peristiwa pasang naik pada permukaan matahari dan bintang tersebut. Sebagian massa dari matahari itu tertarik ke arah bintang, sebagian jatuh kembali ke permukaan matahari dan sebagian lagi terhambur ke ruang angkasa di sekitar matahari.
Moulton dan Chamberlain berpendapat bahwa massa yang terhambur di ruang angkasa inilah yang dinamakan planetesimal yang kemudian menjadi planet-planet yang beredar pada orbitnya dengan matahari sebagai pusatnya.
4.      Teori Bintang Kembar
Teori ini dikemukakan oleh Hoyle. Hoyle mengemukakan bahwa pada awalnya matahari merupakan bintang kembar yang berdekatan. Satu bintang meledak, sehingga pecahannya berputar mengelilingi bintang yang tidak meledak. Gravitasi bintang besar yang tidak meledak menimbulkan perputaran. Bintang yang tidak meledak menjadi matahari, sedangkan pecahan bintang yang meledak menjadi planet-planet dan satelit.
5.      Teori Awan Debu
Teori ini dikemukakan oleh Von Wizsecken, ia berpendapat bahwa tata surya terbentuk dari gumpalan awan gas dan debu. Pada 5.000 juta tahun yang lalu, gumpalan awan mengalami pemampatan, sehingga partikel-partikel debu tertarik ke bagian pusat awan serta membentuk gumpalan bola dan mulai berpilin.Semakin lama, gumpalan gas itu memipih membentuk cakram (tebal di bagian tengah dan lebih tipis di bagian tepi). Bagian tengah cakram gas itu berpilin lebih lambat daripada bagian tepinya. Partikel-partikel di bagian tengah cakram itu kemudian saling menekan, sehingga menimbulkan panas dan menjadi pijar yang disebut matahari.
Bagian yang lebih luar berputar sangat cepat, sehingga terpecah-pecah menjadi gumpalan gas dan debu yang lebih kecil. Gumpalan kecil ini juga berpilin kemudian membeku dan menjadi planet-planet serta satelit-satelitnya.
6.      Teori Proto Planet
Teori ini dikemukakan oleh astronom Jerman Carl Von Weizsaeker dan disempurnakan oleh P Kuiper, dan kawan-kawan. Teori ini pada dasarnya menyatakan bahwa tata surya terbentuk dari gumpalan awan gas dan debu. Lebih dari 5 milyar tahun yang lalu, salah satu gumpalan awan mengalami pemampatan. Pada proses pemampatan itu partikel-partikel debu tertarik ke dalam menuju pusat awan, membentuk gumpalan bola, dan mulai berotasi. Karena rotasi cepat, maka gumpalan gas mulai memipih menyerupai bentuk cakram yaitu tebal di bagian tengah saling menekan sehingga menimbulkan panas dan berpijar. Bagian tengah yang berpijar inilah sebagai protosun (cikal bakal matahri), yang akhirnya menjadi matahari.
Bagian tepi (bagian yang lebih luar) yang berotasi sangat cepat menyebabkan bagian ini terpecah-pecah menjadi banyak gumpalan gas dan debu yang lebih kecil. Gumpalan kecil ini juga berotasi, akhirnya membeku menjadi planet-planet serta satelit-satelitnya.

D.  TEORI USIA BUMI
Bumi merupakan salah satu planet dari tata surya kita, dan tak ada satu pun di antara planet-planet dalam tata surya mempunyai kondisi yang memungkinkan adanya kehidupan seperti di bumi. Asal usul bumi seperti asal usul planet lain yang telah dikemukakan. Perhitungan penentuan umur lapisan bumi dan fosil banyak dikemukakan oleh teori, antara lain sebagai berikut.
1.        Teori Sedimen
Pengukuran usia bumi didasarkan atas perhitungan tebalnya lapisan sedimen yang membentuk batuan. Dengan mengetahui ketebalan lapisan sedimen rata-rata yang terbentuk tiap tahunnya dan membandingkannya dengan tebal batuan sedimen yang terdapat di bumi sekarang ini, maka dapat dihitung umur lapisan tertua kerak bumi. Berdasarkan perhitungan semacam ini, diperkirakan bumi terbentuk 500 juta tahun yang lalu.
2.        Teori Kadar Garam
Pengukuran usia bumi berdasarkan perhitungan kadar garam di laut. Diduga bahwa mula-mula laut itu berair tawar. Akibatnya sirkulasi air dalam alam ini, maka air yang mengalir dari darat melalui sungai ke laut, membawa garam-garam. Keadaan semacam itu berlangsung terus menerus sepanjang abad. Dengan mengetahui kenaikan kadar garam tiap tahun, dan jika dibandingkan dengan kadar garam pada saat ini, yakni sebesar kurang lebih 340 tahun, maka dihasilkan perhitungan bahwa bumi telah terbentuk 1000 juta tahun yang lalu.
3.        Teori Termal
Teori ini mengukur usia bumi berdasarkan perhitungan suhu bumi. Diduga, mula-mula bumi merupakan batuan yang sangat panar, yang lama kelamaan mendingin. Dengan mengetahui massa dan suhu bumi saat ini, maka ahli Fisika Bangsa Inggris Elfin memperkirakan perubahan bumi dari batuan yang sangat panas menjadi batuan yang dingin seperti ini memerlukan waktu 20.000 juta tahun.
4.        Teori Radioaktif
Pengukuran usia bumi yang dianggap paling akurat ialah perhitungan berdasarkan waktu peluruhan unsur-unsur radioaktif. Dalam perhitungan ini diperlukan pengetahuan tentang waktu paruh unsur-unsur radioaktif. Di antar isotope radioaktif yang dapat digunakan untuk maksud tersebut ialah Uranium-236(U238), Potasium -40 (K-40) dan Carbon -14 (C14). Isotop Uranium dan Potasium sangat baik untuk memberikan data tentang umur lapisan bumi, sedangkan isotope karbon (C) sangat bermanfaat untuk memberikan data tentang fosil.

DAFTAR PUSTAKA
Admiranto, A. Gunawan. 2009. Menjelajahi Bintang, Galaksi, dan Alam Semesta. Yogyakarta: Kanisius.
Admiranto, A.Gunawan. 2000. Tata Surya dan Alam Semesta. Yogyakarta: Kanisius.
Departemen Agama RI. 2002. Islam Untuk Disiplin Ilmu Astronomi. Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam
Mulyo, Agung. 2009.Pengantar Ilmu Kebumian.Bandung:Pustaka Setia.
Tjasyono, Bayong. 2009. Ilmu Kebumian Dan Antariksa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
http://sukiran12.files.wordpress.com/2011/02/iad-5.pdf

Tidak ada komentar: