Asik

Rabu, 05 November 2014

Download Gratis Kajian Kumpulan Jurnal Internasional tentang Pendidikan

Pakah pembaca sedang mempersiapkan menyusun skripsi atau yang lainnya sekarang?  Jika jawabannya, iya. Tentu saja harus sering dan banyak mengkaji jurnal internasional yang berkaitan dengan studi kasus yang terbaru saat ini.

Sekedar ingin membantu, penulis pada kesempatan kali ini ingin mebagikan beberapa kajian jurnal yang telah penulis miliki. Untuk kajian jurnal ini berada dalam format pdf, doc, dan ppt. Yang berfungsi sebagai bahan untuk persentasinya. Meskipun demikian tidaklah mutlah bahwa kajian jurnal yang ada ini adalah benar. Jdi ssemoga pembaca bijak menanggapinya.

Semoga proses yang sedang pembaca sekarang lakukan dapat berjalan lancar. Silahkan download kumpulan kajian jurnal internasional lengkap dengan berbagai judul untuk  pendidikan dan non pendidikan. Semoga bermanfaat
:)

Selamat mendownload
Kumpulan kajian jurnal internasional
- Kajian Jurnal Active-Learning Instruction in Physics
- Kajian Jurnal Exploring South African High School Teachers’ Conceptions Of The Nature Of Scientific Inquiry A Case Study
- Kajian Jurnal The Relationship between Teachers’ Knowledge and Beliefs about Science and Inquiry and Their Classroom Practices
- Kajian Jurnal Assessing the Relative Effectiveness of Three  Teaching  Methods in the Measurement of Students’ Performance in Physics
- Kajian Jurnal Effect Of Cooperative Learning Model On Science And Technology Laboratory Practices Lesson
- Kajian Jurnal Effect of Problem Solving Method on Science Process Skills and Academid Achievement
- Kajian Jurnal Effect of Student’s Team Achievement Division (STAD) on Academic  Achievement of Students
- Kajian Jurnal Effective Teaching Methods—project-based Learning In Physics
- Kajian Jurnal Effectiveness of Multiple Representations for Learning Energy Concepts Case of Turkey
- Kajian Jurnal Effects of Inquiry-based Learning on Students’ Science Literacy Skills and Confidence
- Kajian Jurnal Effects of inquiry-based teaching approach on Secondary School Students’ achievement and  motivation in Physics in Nyeri County, Kenya
- Kajian Jurnal Engineering Design And Conceptual Change In Science Addressing Thermal Energy And Heat Transfer In Eighth Grade
- Kajian Jurnal Exploring South African High School Teachers’ Conceptions Of The Nature Of Scientific Inquiry A Case Study
- Kajian Jurnal Exploring the Underlying Components of Primary School Teachers’ Pedagogical Content Knowledge for Technology Education
- Kajian Jurnal Exploring University Students’ Expectations and Beliefs about Physics and Physics Learning in a Problem-Based Learning Context
- Kajian Jurnal Fostering Conceptual Change By Cognitive Conflict Based Intruction On    Students Understanding Of Heat And Temperature Concepts
- Kajian Jurnal Generating Students’ Information Seeking Questions in the Scholar Lab What Benefits Can We Expect From Inquiry Teaching Approaches
- Kajian Jurnal I do and I Understanding’ Practical work and laboratory use in United Kingdom schools
- Kajian Jurnal Implementation Of Inquiry-based Science Education In Science Teacher Training
- Kajian Jurnal Improving Scientific Literacy among Secondary School Students through Integration of Information and Communication Technology
- Kajian Jurnal Improving The Science Process Skills Ability Of Science Student  Teachers Using I Diagrams
- Kajian Jurnal Inquiry-Based Laboratory Practices in a Science Teacher Training Program
- Kajian Jurnal Integrated PBL Approach Findings Towards Physics Students’ Critical Thinking
- Kajian Jurnal Integrating Effective Pedagogies in Science Education with a Design of Alternative Experiments on Electromagnetics
- Kajian Jurnal Learning Activities That Combine Science Magic Activities with the 5E Intrutional Model to Influence Secondary-School Students’ Attitude to Science
- Kajian Jurnal Levels of Inquiry Model of Science Teaching Learning sequences to lesson plans
- Kajian Jurnal Making Cooperative Learning Work in the College Classroom An Application of the ‘Five Pillars’ of Cooperative Learning to Post-Secondary Instruction
- Kajian Jurnal Misconceptions On Heat And Temperature
- Kajian Jurnal Misconceptions Or Missing Conceptions
- Kajian Jurnal Moodle as a Learning Environment
- Kajian Jurnal Moodle as a Learning Environment in Promoting Conceptual  Understanding for Secondary School Students
- Kajian Jurnal Motivation to Learn Science and Cognitive Style
- Kajian Jurnal On the Use of Two Version of the Force Concept Inventory to Test Conceptual Understanding of Mechanics in Lao PDR
- Kajian Jurnal Pre-Service Science Teachers’ Written Argumentation Qualities From the Perspectives of Socio-Scientific Issues, Epistemic Belief Levels and Online Discussion Environment
- Kajian Jurnal Probing Students’ Critical Thinking Processes by Presenting Ill-Defined Physics Problems
- Kajian Jurnal Problem Based Learning An Introduction and Overview of The Key Features and Approach
- Kajian Jurnal Problems and Possibilities with Centering Physics Teaching around Student Discussions
- Kajian Jurnal Progression Or Regression Children’s Understanding Of  The Heat Concept From Primary To Secondary School
- Kajian Jurnal Recency Effect on Problem Solving in Interactive Multimedia Learning
- Kajian Jurnal Resource Letter ALIP-1  Active -Learning Instruction In Physics
- Kajian Jurnal Secondary Students’ Stable and Unstable Optics Conceptions Using Contextualized Questions
- Kajian Jurnal Student teachers’ levels of understanding and model of understanding about Newton's laws of motion
- Kajian Jurnal Students Science Process Skills Within a Cognitive Domainn Framework

Bukan untuk diperjualbelikan. Mohon maaf jika ada penulisan yang kurang tepat atau kajian yang tidak sesuai dengan harapan.

Semoga bermanfaat
:)

Ilmu Kebal Tubuh Manusia

Infeksi adalah masuknya kuman (yang seharusnya tidak ada) ke dalam tubuh yang bisa menyebabkan timbulnya penyakit. Kuman ini bisa berupa virus, bakteri, jamur atau parasit. Untuk bisa terjadi infeksi, diperlukan interaksi yang kompleks antara tubuh dan kuman (pathogen/penyebab infeksi/kuman tidak baik – selanjutnya kita sebut 'kuman' saja). Hal ini tergantung pada jumlah kuman, kemampuan kuman menginvasi (masuk ke dalam tubuh), dan virulensi (kemampuan kuman untuk menghasilkan penyakit atau menginfeksi). Selain itu untuk bisa terinfeksi, tergantung pada kondisi tubuh, apakah tubuh cukup kebal untuk menghindari infeksi tersebut?
Tetapi jangan khawatir karena kuman ini tidak mengganggu. Justru kuman ini akan memberikan manfaat bagi tubuh kita, asalkan kekebalan tubuh kita sedang baik. Kuman-kuman tersebut disebut flora normal atau 'kuman baik'.

Bagaimana cara kuman masuk ke dalam tubuh?
Kuman bisa masuk ke dalam tubuh kita melalui berbagai cara. Bisa melalui berbagai lubang (mulut, hidung, mata, telinga, anus, uretra/saluran kencing, dan saluran kelamin); bisa juga masuk lewat perantara, misalnya gigitan nyamuk; atau harus terjadi kerusakan atau kekebalan yang turun sehingga 'kuman yangtadinya baik' juga akan bisa memanfaatkan kesempatan untuk menginvasi tubuh kita.

Apa yang terjadi bila tubuh kemasukan kuman?
Ternyata hampir semua kuman yang bisa masuk akan dikeluarkan oleh tubuh kita. Ini merupakan respon alamiah tubuh untuk melindungi diri agar tidak terjadi penyakit. Kemampuan tubuh untuk mempertahankan diri inilah yang disebut dengan kekebalan atau imunitas.

Nah, di sinilah pentingnya kita mempelajari ‘ilmu kebal’. Sistem kekebalan tubuh kita terdiri dari 3 lapis. Seperti layaknya negara yang memiliki tentara, maka ada tentara di garda pertama, yang akan mampu mengeliminasi musuh yang tidak terlalu membahayakan. Selanjutnya bila musuh masih nekat tidak mau mundur, maka lini kedua dan ketiga akan turut berperan.

Sistem kekebalan tingkat pertama

 
Kulit berperan untuk melindungi tubuh dengan membentuk perintang fisik dan kimia, sulit ditembus kuman karena terbentuk dari keratin yang sulit dicerna. Kecuali pada kulit yang terbuka (misalnya pada luka bakar atau luka terbuka) akan berisiko kemasukan kuman. Kulit juga menyediakan media dimana kuman (yang tidak baik) tidak bisa tumbuh. Kuman yang masuk ke mata akan dikeluarkan bersama dengan aliran air mata dan dirusak oleh lysozyme dalam air mata (suatu protein yang bisa merusak dinding sel kuman).Kuman yang masuk ke saluran pernapasan akan berhadapan dengan rambut getar dan lendir yang akan menyapu kuman ke luar. Ada juga respon tubuh berupa bersin dan batuk yang sangat efektif mengeluarkan kuman. Kuman dalam saluran pencernaan akan bertemu dengan asam lambung. Bila kuman tersebut belum bisa dimatikan, maka di dalam usus akan bertemu dengan kuman baik, lysozyme, dan bacteriocin (zat antibakteri yang diproduksi oleh kuman baik); semuanya berperan untuk mengeluarkan kuman dari saluran pencernaan. Kuman di dalam saluran kencing dan kelamin akan berhadapan dengan suasana asam dalam saluran tersebut dan kuman ini akan didorong keluar oleh aliran kencing.

Sistem kekebalan tingkat kedua
Apabila sistem kekebalan tingkat pertama tidak bisa memaksa kuman keluar tubuh, maka sistem tingkat kedua akan berperan yang melibatkan leukosit (sel darah putih). Sel darah putih normalnya beredar di dalam darah, namun akan masuk ke dalam jaringan tubuh bila ada kuman yang menginvasi jaringan. Sel darah putih yang berperan di sini adalah fagosit, yaitu sel yang bisa menghancurkan kuman dengan cara memakan dan menelan kuman tersebut.

Bila virus masuk ke dalam sel tubuh maka akan berkembang biak dalam sel tersebut, bila sel ini pecah maka ribuan virus akan dilepaskankan untuk menginfeksi sel tubuh lain. Interferon, yang merupakan zat kimia yang dihasilkan oleh sel tubuh yang terinfeksi virus, akan menghalangi virus-virus tersebut untuk menyerang sel tubuh lain yang masih sehat.

Selanjutnya jenis leukosit lain, yaitu sel T (sel natural killer), sangat pintar mencari dan mengenali sel-sel yang sudah terinfeksi untuk diserang dan dibunuh dengan cepat. Sel-sel yang terluka tersebut akan mengeluarkan histamin, zat yang bisa menimbulkan reaksi radang (inflamasi). Kapiler darah disekitar tempat infeksi akan melebar (memerah), suhunya akan meningkat (panas), dan reseptor nyeri akan teraktivasi (timbul rasa sakit dan keterbatasan fungsi).

Sistem kekebalan yang diperantarai oleh sel T dan fagosit ini (cell-mediated immune system) menghasilkan respon kekebalan yang non-spesifik.

Sistem kekebalan tingkat ketiga
Bila kuman mampu melewati sistem kekebalan tingkat kedua, maka kuman akanberhadapan dengan sistem kekebalan tingkat ketiga. Antibodi akan berperan di sini (antibody-mediated immune system). Sistem ketiga ini berjalan dengan bantuan sistem tingkat kedua. Kuman yang sudah dihancurkan akan dikenali oleh sel T. Sel T ini selanjutnya akan mencari sel B yang spesifik untuk membantunya mengenali kuman, dengan tujuan agar sel B menghasilkan antibodi yang spesifik terhadap kuman tersebut (tiap antibodi akan punya tangan spesifik yang hanya bisa mengikat kuman yang spesifik pula). Akhirnya tubuh akan membentuk sel memori untuk selalu mengingat kuman yang spesifik tersebut. Bila kuman yang sama masuk kembali, maka sel memori akan cepat mengenali dan membentuk antibodi lebih banyak lagi. Misalnya pada infeksi cacar air, apabila virus cacar air baru pertama kali masuk ke tubuh maka akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk dikenali, dan orang akan tetap sakit sampai antibodi terbentuk. Tapi bila virus ini suatu saat masuk lagi ke tubuh orang yang sama, maka akan mudah dikenali dan dirusak oleh antibodi karena telah terbentuk sel memori. Sehingga orang tersebut tidak akan sakit saat terinfeksi lagi virus tersebut. Ini yang disebut kebal.

Dari sinilah filosofi imunisasi diambil untuk mencegah timbulnya penyakit. Prinsip imunisasi adalah memasukkan kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan ke dalam tubuh sehingga kuman tidak bisa menimbulkan penyakit, tapi masih bisa memicu tubuh untuk membentuk antibodi terhadap kuman tersebut. Apabila suatu saat, kuman yang sama masuk ke dalam tubuh orang yang sudah diimunisasi, penyakit tidak akan terjadi. Karena orang tersebut sudah membentuk antibodi yang spesifik terhadap kuman tersebut, maka kuman dengan mudah akan digandeng oleh antibodi spesifik untuk dibunuh. 

Penulis

Indah Kartika Murni, Staf di SMF Kesehatan Anak RSUP dr Sardjito/Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UGM, Yogyakarta. Kontak: ita_kartika@yahoo.com.